Kisah 3 Santri yang Kabur dari Pesantren Demi Ikut Aksi Bela Islam 411

4 bulan yang lalu Redaksi BCO 0 respond
Massa Aksi Bela Islam 411
Massa Aksi Bela Islam 411

CILEGON, BCO – Pernikahan Wiwi Margaretta dan Andreas Gunawan di Katedral Jakarta saat #AksiBelaQuran pada 4 November lalu adalah kisah menarik. Tapi cerita itu bukanlah satu-satunya kejadian unik seputar aksi 411.

Masih banyak kepingan mozaik yang kita belum dengar berkenaan dengan aksi demonstrasi terbesar dalam sejarah politik Indonesia. Kisah ini datang dari dunia pesantren dan terlalu sayang jika Anda lewatkan.

Pekan lalu, saya berkunjung ke sebuah pesantren di selatan Pulau Sumatera. Sembari mengudap kacang kulit dan kopi Arabica khas Sumatera, sang Ustadz bertanya kabar soal konstelasi perguliran informasi yang sedang menghangat. Aksi 411 dan rencana aksi 212 cukup menyibukkan Presiden, Kapolri dan jajaran aparat Ibu Pertiwi.

Meskipun, jaringan internet serat optik telah masuk pondok, rupanya sang Ustadz tahu kalau wartawan yesterday afternoon macam saya ini dianggap punya informasi belakang layar. Tapi ya namanya informasi belakang layar jadi gak perlu harus terbaca di layar laptop atau gadget Anda kan? Hehe.. :)

Sang ustadz kemudian berujar. “Santri sini ada yang habis digunduli karena kabur dari pondok ikutan aksi 411.”

Mencium gelagat akan adanya sebuah cerita menarik, saya meminta izin bisa mengobrol dengannya. Seorang ustadz muda kemudian memanggil santri tersebut. Lalu, bukan hanya satu. Muncul tiga sosok bocah-bocah tanpa wajah berdosa. Bertiga, mereka langsung duduk memadati kursi panjang di ruang tamu pondok yang cukup sejuk. Imajinasi langsung melayang. Agaknya, mereka bertiga cukup licin. Pantas jika disebut trio tupai.

Demi menghindari sensor KPI, sebut saja ketiga nama bocah-bocah itu Upin, Ipin dan Apin. Duduk paling kanan, sosok berperawakan paling kecil. Upin memiliki raut muka yang terlihat keras. Sorot matanya pun tegas. Dia boleh jadi yang paling mungil di antara trio tupai ini, tapi kepemimpinannya paling menonjol.

Ipin yang duduk di tengah, sekilas terlihat seperti bocah rumahan biasa. Punya wajah manis dengan kulit sawo matang. “Dia kelihatannya paling pendiam, tapi di belakang kita gak tahu,” kata sang Ustadz kepada saya. Ipin terlihat paling pemalu saat berada di tengah sofa dan dihimpit kedua partner in crime-nya.

Sementara di sudut paling kiri ialah Apin. Perawakannya paling besar. Kulitnya putih, jerawatnya sudah mulai tumbuh. Apin mungkin paling cepat dewasa di antara ketiga rekannya.

 

Celah Pertahanan

Upin bercerita, mereka tahu akan ada aksi 411 di masjid Istiqlal Jakarta dari papan informasi di pondok. Papan ajaib itulah yang menjadi satu-satunya akses informasi mereka ke dunia luar. Mereka kemudian bersekongkol sebanyak 7 orang untuk berencana mengikuti aksi bela Quran di Jakarta.

Sebagai mantan santri, saya tahu betul kalau para santri berjiwa pemberontak pasti mengenal sudut-sudut pondok pesantrennya. Mana lokasi yang sering dilintasi bagian keamanan, mana posisi yang mustahil ditembus, sekaligus mana celah yang bisa dieksploitasi untuk escape, ketika dibutuhkan.

Ketujuh santri ini tahu betul celah pertahanan pondoknya yang paling rapuh ada di bagian belakang. Maklum, pondok mereka saat itu sedang dalam masa pembangunan. Itulah titik awal perjalanan mereka menuju ibukota.

Kamis, 3 November 2016. Waktu baru menunjukkan pukul 03.00 dini hari saat mereka menyelinap keluar pondok. Mereka membagi rombongan menjadi dua bagian supaya tak mencolok perhatian ustadz dan teman-temannya yang lain (Yes i know it..). Tak dinyana, saat itu juga ada 3 orang santri lain yang mencoba menyelinap keluar untuk ikut aksi 411 pula. Total jenderal para penerobos itu berjumlah 10 orang.

 

Bernyali Ganda

Di tengah gelap gulita, mereka semua berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju masjid tengah kota. Namanya santri, kalo kabur ya titik kumpulnya di masjid. Hehe. Dari situ mereka sempat shalat subuh dan mencari angkutan ke Jakarta. Dalam benak mereka, angkutan yang paling aman adalah naik travel.

“Waktu itu ditanya sama tukang travelnya, kalau nyeberang punya identitas gak?” Tutur Upin dengan penuh antusias.

Rombongan bocah-bocah santri itu sempat limbung. “Gak punya om,” ucap salah satu dari mereka.

“Ya kalau gitu hati-hati di jalan,” ujar supir travel, kelihatannya ia juga takut kehilangan penumpang.

Kendati demikian, nyali sebagian bocah santri itu kadung menciut. Mereka bertujuh kembali lagi ke pondok. Tapi rombongan trio tupai tetap bertahan. Mereka seolah bernyali ganda. Sudah membulatkan tekad, besok harus tiba Jakarta.

“Loh kok kalian berani nyeberang. Memangnya punya kartu identitas?” Tanya saya.

“Ada. Kartu Berantas Narkoba,” sahut Ipin si bocah rumahan.

Rupanya, Ipin masih menyimpan Kartu Berantas Narkoba yang dibagikan bapak-bapak dari Polsek saat mengadakan sosialisasi bahaya narkoba ke pondoknya. Kartu ini bukanlah kartu tanda pengenal, tapi cukuplah buat menguatkan mental para tupai.

Keberanian mereka juga didukung adanya jaminan tempat tinggal di Jakarta. Lagi-lagi di sini si Ipin bintangnya. Ia punya kerabat di Jakarta Utara, sehingga trio tupai merasa aman kalau kemalaman di Jakarta.

Mereka bertiga akhirnya tiba juga di Jakarta setelah menyeberangi Selat Sunda. Mereka langsung merapat ke Masjid Istiqlal. Di Jakarta, komplotan ini hanya mengandalkan makanan gratis yang dibagikan untuk para demonstran. “Kita makannya di Istiqlal. Itu kan banyak yang bagi-bagi,” celoteh Upin.

Lalu, di mana trio tupai saat hari menjelang malam dan mulai terjadi bentrokan?

“Waktu itu sehabis shalat maghrib dan dijamak isya, kami ke arah Stasiun Gambir. Tapi saat itu sudah ditutup sama polisi. Dari arah Istana sudah terlihat bentrok. Ada banyak nyala api dan asap. Kita sudah mau ke sana (lokasi kerusuhan), tapi yang ini takut (sambil menunjuk teman sebelahnya). Akhirnya gak jadi. Kita langsung pulang,” kata Upin. Si Ipin yang ditunjuk langsung memerah mukanya.

Kala itu, mereka langsung menyetop bajaj untuk membawa mereka pulang ke rumah kerabat Ipin.

 

Teori Geertz dan 411

Dari sudut pandang seorang santri, kisah trio tupai yang turut dalam aksi 411 menurut saya menorehkan banyak catatan menarik. Biasanya, santri-santri yang nakal kerap meloloskan diri dari tempatnya menuntut ilmu karena alasan klasik. Bosan dan kurang hiburan.

Oleh karena itu, kaburnya santri dari pondok pesantren merupakan pelanggaran yang bisa dianggap lazim. Meskipun di beberapa tempat, para santri bisa dikenai hukuman keras.

Ada beberapa pondok pesantren yang menggunduli santrinya karena ketahuan kabur. Tapi ada juga yang menghujani tubuh bocah tak berdaya itu dengan sebilah rotan atau gagang sapu, atau malah seketemunya alat pukul di kawasan pesantren tersebut (seperti yang pernah saya alami sendiri, hahaha).

Karena itu pula, berdasarkan riset ngawur Cak Lemper, tempat kabur para santri masih didominasi oleh rumah orangtua santri tersebut (42%), rumah teman atau kerabat (33%), bioskop/mall (15%), tempat hiburan lainnya (10%).

Namun, motivasi seorang santri kabur untuk ikut aksi demonstrasi adalah sesuatu yang menarik. Pertama, mereka adalah kalangan santri yang terbatas informasinya. Tentu saja pengetahuan mereka hanya terbatas dari pamflet yang dicetak di papan informasi. Mereka tak pernah ikut hestek apapun, apalagi mengikuti info-info terkini.

Kedua mereka rela berkorban harta, tenaga, waktu dan juga pikiran (memikirkan gimana caranya ke Jakarta, mungkin untuk pertama kali seumur hidupnya, red) untuk ikut aksi 411. Juga mereka berani menanggung resiko menerima hukuman sekembalinya dari aksi tersebut.

Selain trio tupai yang sukses ke Jakarta, 7 rekan mereka yang gagal pun seluruhnya dibotak. Mereka melanggar aturan dasar pondok, keluar tanpa izin. Tapi, meski tahu mereka bersalah, pada raut muka trio tupai tak ada tanda-tanda penyesalan. Konon, orang tua mereka pun sudah mengikhlaskan.

“Orangtua udah tahu, udah ikhlas,” kata Apin. Apin mengaku sudah memberitahu orangtuanya saat ia digunduli. Ia malah dinasehati ”Gak apa-apa dihukum, yang penting sudah membela agama Allah.”

Menurut pengakuan Ipin, kedua orangtuanya sudah tahu anaknya pergi ke Jakarta demi aksi 411. “Sudah jaga diri saja kalau sudah sampai sana,” demikian ibunya berpesan.

Seorang ustadz yang turut dalam wawancara saya bersama trio tupai kemudian mengingatkan. “Usahakan lain kali izin dan bertanya kepada ustadz kalau ada acara semacam ini. Mungkin pondok akan memberikan pertimbangan,” katanya bijak.

Kali ini, saya terpaksa setuju dengan ucapan Clifford Geertz. Seorang antropolog asal Amerika yang pernah membagi masyarakat Jawa dengan istilah priyayi, abangan dan santri. Dalam bukunya Religion of Java, Geertz pernah bilang, “santri adalah golongan masyarakat yang menganut ajaran Islam dengan sungguh-sungguh.”

Trio tupai boleh jadi dianggap nakal. Tapi ketulusan mereka siapa yang tahu?

 

 

Penulis: Fajar Shadiq (Sumber: kiblat.net)

 

Don't miss the stories followPortal Berita Cilegon No.1 and let's be smart!
Loading...
0/5 - 0
You need login to vote.
Aktivis Islam "Korban Kriminalisasi" Kepolisian, Muhammad Hidayat / Dok

Ahok Tak Dipenjara, Aktivis Pengunggah Video “Kapolda Provokator” Mogok Makan di Tahanan

Kantor BEN Institute milik Ketua IMM, Beni Pramula / Dok

Mahasiswa Sedang Rapat Rencana Aksi Bela Islam Jilid III, Kantor Ketua IMM Alami Kebakaran Hebat

Related posts
Your comment?
Leave a Reply